Jangan Salah Kaprah Memahami Jenis Hak Atas Tanah

Jangan Salah Kaprah Memahami Jenis Hak Atas Tanah

Banyak masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa HGB (Hak Guna Bangunan) itu setara dengan Hak Milik, padahal ini jelas keliru. Mengacu pada UUPA (Undang-Undang Pokok Agraria), memang ada banyak jenis hak atas tanah, tidak semuanya mempunyai arti kepemilikan tanah.

Totalnya ada 8 pengelompokan hak tanah, antara lain sebagai berikut:

  1. Hak milik
  2. Hak Guna Usaha
  3. Hak Guna Bangunan
  4. Hak pakai
  5. Hak sewa
  6. Hak membuka tanah
  7. Hak memungut hasil hutan
  8. Hak-hak lain yang tidak termasuk dalam hak-hak di atas. Penetapannya melalui undang-undang, serta hak-hak yang sifatnya sementara sebagai yang disebutkan dalam pasal 53, seperti hak gadai, hak usaha bagi hasil, hak menumpang, dan hak sewa tanah pertanian.

Admin tanahkavlingmurah.com akan kembali berbagai informasi penting seputar pemahaman properti. Pastikan Anda menyimak informasi ini sampai selesai, jangan sampai salah kaprah lagi dalam memahami jenis hak atas tanah.

Memahami Jenis Hak Atas Tanah, Dimana Letak Perbedaannya?

Dari daftar hak atas tanah yang tercantum pada UUPA, umumnya kita hanya akan menjumpai pilihan 1- 5 saja. Namun, tidak ada salahnya untuk memahami setiap poin yang ada, harapannya Anda bisa semakin mahir lagi dalam memahami ilmu properti. Oke, jika sudah siap langsung simak penjelasan berikut.

Sumber: ATR/BPN

1. Hak Milik (SHM)

Ini adalah hak atas tanah yang diinginkan oleh semua orang. Bukan tanpa alasan, jika Anda sudah punya tanah dengan status hak milik, maka sampai kapanpun lahan tersebut akan menjadi properti permanen. Ibarat kata meskipun Anda meninggal, tanah ini tetap bisa diwariskan dari generasi ke generasi tanpa ada batasan waktu kepemilikan.

Tidak sedikit orang yang menyebut status ini sebagai hal yang istimewa. Kepemilikan dibuktikan dengan adanya SHM (Sertifikat Hak Milik) yang diterbitkan melalui BPN.

Meskipun demikian, kepemilikan tanah bisa hilang apabila yang bersangkutan pindah kewarganegaraan. Penjelasan mengenai hak milik mengacu pada UUPA pasa 20 sampai dengan 27.

2. HGU (Hak Guna Usaha)

Hak Guna adalah hak yang bertujuan untuk mengusahakan tanah milik Negara dalam jangka waktu tertentu. Pada umumnya pihak yang menerima HGU adalah perusahaan pertanian, perikanan, atau peternakan.

Dari fungsinya saja sudah beda, tanah HGU digunakan untuk lahan produktif. Misalnya, menanam padi, jagung, dan komoditas pertanian sejenis. Kemudian, dari segi perikanan seperti membuka tambak ikan, keramba, empang, dan sejenisnya.

Selain itu, dari segi peternakan berarti difungsikan untuk mendirikan tempat peternakan produktif seperti peternakan sapi perah, peternakan unggas, dan sejenisnya.

Menurut informasi dari ATR/BPN, HGU maksimal diberikan selama 35 tahun, seterusnya dilakukan perpanjangan dengan waktu yang didapat 25 tahun. Bisa dipahami Hak Guna Usaha sudah pasti tidak bisa untuk membangun rumah, acuan ini mengakar pada UUPA pasal 28 sampai dengan 30. Sebagai penegas, Hak Guna Usaha hanya boleh diberikan kepada WNI (Warga Negara Indonesia) dan Badan Hukum yang didirikan menurut ketentuan perundang-undangan RI.

3. Hak Guna Bangunan (HGB)

HGB adalah hak untuk mendirikan bangunan dan gedung di atas tanah yang bukan miliknya sendiri. Ya, jenis hak atas tanah inilah yang seringkali anggap sama seperti hak milik.

Bayangkan saja, Anda sama-sama bisa bangun rumah di atas tanah tersebut. Hal yang membedakan terletak pada durasi pemberian izinnya. ATR/BPN menyebut izin HGB diberikan paling lama 30 tahun dan dapat diperpanjang dengan waktu paling lama 20 tahun. Sama seperti HGU, Hak Guna Bangunan juga hanya boleh dimiliki oleh WNI.

Kedua hak di atas sama-sama bisa dicabut apabila ditemukan adanya penyelewengan dan pelanggaran yang telah ditetapkan menurut UUPA.

4. Hak Pakai

Lagi-lagi hampir sama, Hak Pakai juga prinsipnya seakan setara dengan HGB dan Hak Milik. Dalam penggunaannya hak tidak hanya bisa digunakan oleh WNI, tetapi juga  WNA boleh mempunyai properti di Indonesia misalnya beli rumah tapak atau rusun baru, hak pakai inilah yang akan digunakan sebagai hak atas tanahnya.

Menurut ketentuan yang berlaku Hak Pakai memiliki masa berlaku hingga 30 tahun, untuk selanjutnya diperpanjang 20 tahun, lalu diperbarui lagi menjadi 30 tahun.

Anda juga bisa mengalihkan hak pakai untuk pihak lain, selagi ada perjanjian yang jelas antara kedua pihak.

Baca juga: Ini Motivasi Untuk Investasi Tanah Untuk Anda yang Masih Gelisah

5. Hak Sewa

Sesuai dengan namanya hak sewa adalah penggunaan hak milik tanah orang lain melalui perjanjian sewa. Pihak yang bersangkutan membayarkan sejumlah uang sesuai dengan kesepakatan kepada pemilik tanah.

Pada penerapannya hak sewa dibagi lagi menjadi dua, yakni sewa atas bangunan dan sewa untuk bangunan. Apa perbedaan dari keduanya.

Pertama, hak sewa untuk bangunan mempunyai arti bahwa pemilik menyerahkan tanah dalam keadaan kosong kepada penyewa. Dengan demikian, penyewa bisa mendirikan bangunan di atas tanah tersebut. Umumnya hal ini terjadi di wilayah-wilayah strategis seperti kawasan Jabodetabek.

Di sisi lain, hak sewa atas bangunan berarti si pemilik bangunan menyewakan rumahnya kepada pihak lain yang memerlukan tempat tersebut beserta dengan rumah/bangunanya juga.

6. Hak Membuka Tanah dan Memungut Hasil Hutan

Hak membuka tanah dan memungut hasil hutan adalah ketentuan yang diberikan kepada WNI untuk membuka tanah dan memanfaatkannya. Selain itu memungut hasil hutan berarti masyarakat diperbolehkan untuk mengambil bahan kayu ataupun non kayu dari hutan. Hak ini tergolong khusus, jadi tetap ada ketentuan yang kuat guna mengendalikan hal-hal yang tidak diinginkan.

Selebihnya opsional, pada intinya jenis hak atas tanah memang sangatlah beragam. Sebagai masyarakat sekaligus calon pengusaha properti, sudah sepantasnya Anda memahami hal ini sejak lama.

Apabila Anda tertarik untuk memahami lebih jauh seputar jenis hak atas tanah, maka Anda bisa membaca informasinya melalui UUPA No.5 Tahun 1960 unduh langsung dokumen resminya secara gratis dari situs Pemerintah.

Penawaran Tanah Kavling Bekasi Dengan Status Tanah Hak Milik

Kami masih punya beberapa titik lokasi tanah kavling yang siap menjadi lahan investasi yang menguntungkan. Developer kavling Rahman Berkah Mandiri kembali menawarkan kesempatan emas kepada Anda yang sedang punya banyak budget tapi bingung mau dialokasikan kemana.

Daripada dipakai untuk keperluan sekunder dan foya-foya, lebih baik pikirkan untuk mempersiapkan masa pensiunan yang nyaman di hunian lingkungan yang asri dan tenang.

Cek dulu lokasi tanah kavling sukajadi asri, harga tidak sampai 100 juta lahan yang ditawarkan luas dan sudah siap bangun. Anda tidak perlu memikirkan persoalan legalitas, karena semuanya akan diurus oleh tim kami.

Mulai dari pembuatan PPJB, AJB, hingga balik nama SHM ditanggung oleh pengembang alias gratis. Kami sarankan untuk cek lokasi tanahnya langsung untuk memilih posisi yang tepat. Untuk informasi lebih lengkap kontak admin kami melalui informasi yang tertera.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *